Sultrapedia.com – Pelataran Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara memancarkan ketenangan yang tak biasa. ratusan pasang mata mulai dari jajaran forkopimda, tokoh lintas agama, hingga para penyuluh dari berbagai pelosok sultra duduk bersisian dengan penuh khidmat,di bawah langit Kendari yang teduh pada sabtu malam (1/8/2026).
Suasana haru dan hangat menyelimuti helatan dzikir kebangsaan dan doa lintas iman, sebuah simfoni spiritual yang digelar secara hibrida untuk menyambut hari ulang tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, terhubung langsung dengan pusat perayaan serentak di Istana Merdeka dan Monas, Jakarta.
Momen hangat itu kian bermakna saat Kakanwil Kemenag Sultra, H. Mansur, melangkah maju menyapa hadirin dengan orasi kebangsaannya yang menyejukkan. dengung bait-bait doa yang sebelumnya melangit serasa menemukan pijakannya ketika ia mengingatkan bahwa Empat Pilar Kebangsaan bukanlah sekadar deretan kata di buku sejarah, melainkan napas kehidupan sehari-hari. dengan ketegasan yang lembut, ia mengajak masyarakat merawat toleransi antarumat beragama dan mengikis habis segala bentuk kekerasan, demi memastikan Bumi Anoa tetap menjadi rumah yang aman dan harmonis bagi semua anak bangsa.
Semangat untuk menjaga keutuhan negeri semakin menguat ketika Kasatgas Densus 88 Anti Teror POLRI, Kombes Mas Jaya, melanjutkan orasi dengan nada yang menyentuh kesadaran mendalam. Ia menegaskan bahwa konsensus berbangsa sudah final, dan tugas sejarah generasi hari ini adalah merawat warisan para pahlawan. Menurutnya, benteng terkuat negeri ini tidak hanya dibangun dari tembok yang kokoh, melainkan dari karakter generasi muda yang disirami pendidikan moral, etika, dan wawasan kebangsaan yang tertanam sejak dini di dalam keluarga dan masyarakat.
Melengkapi pesan mendalam tersebut, Dirbinmas Kombes Pol. Suharman Sanusi yang hadir mewakili Kapolda Sultra, membawa sudut pandang yang menggugah tentang arti kedamaian di era modern. di tengah riak tantangan zaman mulai dari ancaman di dunia siber hingga potensi radikalisme keamanan dan ketertiban bukanlah semata tugas aparat, melainkan sulaman gotong royong seluruh elemen masyarakat. Penguatan wawasan kebangsaan menjadi perisai paling ampuh untuk membentengi warga dari arus pemecah belah.
Rangkaian acara yang berlangsung penuh kekeluargaan itu akhirnya ditutup dengan doa yang dilantunkan secara bergiliran oleh para tokoh agama. Di antara helaan napas lega dan jabat tangan yang erat usai kegiatan, terpancar sebuah keyakinan bersama dari pelataran Kanwil Kemenag Sultra, komitmen menjaga Sang Saka Merah Putih terus menyala, mengawal perjalanan bangsa menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.






