Sultrapedia.com, – Kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Andi Sumangerukka (ASR) mendapat sorotan terkait arah pembangunan sumber daya manusia (SDM) di daerah. Di tengah melimpahnya potensi sumber daya alam (SDA) dan pesatnya perkembangan investasi serta industri, pembangunan kualitas manusia dinilai perlu mendapat perhatian yang lebih serius.
Sorotan tersebut datang dari salah satu pemuda asal Sulawesi Tenggara (Sultra) Midul Makati melalui keterangan tertulisnya yang diterima media ini, Selasa (8/9/2026).
Dia menilai pemerintah daerah selama ini lebih banyak menonjolkan pembangunan fisik dan investasi, sementara persoalan pendidikan, peningkatan keterampilan, lapangan kerja, hingga penguatan kapasitas generasi muda Sultra masih membutuhkan kebijakan yang konkret dan terukur.
Sultra dikenal memiliki kekayaan alam yang besar, terutama pada sektor pertambangan, industri, dan investasi yang terus berkembang di sejumlah wilayah. Namun, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana masyarakat lokal, khususnya generasi muda, memperoleh manfaat langsung dari pertumbuhan ekonomi tersebut.
“Di mana posisi anak-anak muda Sultra dalam seluruh proses pembangunan tersebut? Apakah mereka menjadi pelaku utama, mendapatkan pekerjaan yang layak, serta memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri? Ataukah mereka hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri?” demikian sorotan yang disampaikan.
Menurutnya, pemerintah harus mampu menjawab pertanyaan tersebut melalui data dan kebijakan yang jelas. Sebab, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata dapat dilihat dari besarnya investasi yang masuk, banyaknya proyek yang dibangun, maupun meningkatnya aktivitas industri.
“Pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika rakyat lokal menjadi bagian utama dari kemajuan tersebut,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar pertumbuhan industri di Sultra tidak justru membuat tenaga kerja lokal tersisih. Peningkatan investasi, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pendidikan dan kompetensi masyarakat.
“Jangan sampai perusahaan berkembang, tetapi tenaga kerja lokal tersisih. Jangan sampai industri tumbuh, tetapi anak muda Sultra tidak memiliki kompetensi untuk masuk ke dalamnya,” ujarnya.
Sorotan juga diarahkan pada transparansi capaian Pemerintah Provinsi Sultra di bawah kepemimpinan Andi Sumangerukka. Pemerintah diminta membuka kepada publik sejumlah indikator pembangunan SDM yang dapat diukur secara objektif.
Di antaranya, berapa capaian peningkatan kualitas SDM sejak Andi Sumangerukka menjabat sebagai gubernur, berapa banyak anak muda Sultra yang telah mendapatkan pelatihan dan sertifikasi kompetensi, serta berapa persentase tenaga kerja lokal yang terserap pada sektor industri dan pertambangan.
Selain itu, Pemprov Sultra juga dinilai perlu menjelaskan strategi peningkatan kualitas pendidikan di daerah tertinggal, besaran APBD yang dialokasikan untuk pembangunan SDM, indikator keberhasilan setiap program, hingga target yang telah dicapai.
Pertanyaan lainnya adalah bagaimana strategi pemerintah agar generasi muda Sultra tidak hanya menjadi pekerja kasar di tengah berkembangnya industri dan investasi.
“Ini semua harus dijawab oleh Gubernur ASR,” lanjutnya.
Meski demikian, kritik tersebut menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak investasi maupun pembangunan. Investasi justru dinilai penting, tetapi harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat Sultra.
“Kami tidak anti-investasi. Kami tidak anti-pembangunan. Kami justru menginginkan investasi dan pembangunan tersebut mengangkat martabat serta kualitas hidup masyarakat Sulawesi Tenggara,” katanya.
Gubernur Andi Sumangerukka juga disebut sebagai pemimpin seluruh masyarakat Sultra sehingga setiap kebijakan pembangunan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Dalam konteks negara demokrasi, kritik terhadap kebijakan pemerintah dinilai merupakan hal yang wajar, terutama ketika masyarakat mempertanyakan capaian pembangunan yang dianggap belum dapat dibuktikan secara terukur.
“Sultra butuh perubahan, bukan sekadar narasi,” tegasnya.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Sultra didesak menjadikan pembangunan SDM sebagai salah satu agenda utama pemerintahan. Generasi muda Sultra diharapkan tidak hanya menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan industri di daerah sendiri.
Sorotan tersebut juga mengingatkan agar kekayaan alam Sultra tidak hanya dinikmati oleh pihak tertentu, sementara masyarakat lokal justru menanggung dampak sosial dan lingkungan.
“Jangan biarkan kekayaan alam Sultra dinikmati pihak lain dan segelintir orang, sementara rakyat lokal hanya mendapatkan dampak sosial dan bencana dari lingkungannya,” ujarnya.
Pada akhirnya, pembangunan Sultra dinilai tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan eksploitasi sumber daya alam. Peningkatan kualitas manusia harus menjadi bagian penting dari arah pembangunan jangka panjang.
“Sultra tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik. Sultra membutuhkan manusia yang berkualitas untuk mengelola masa depannya sendiri.”
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi Gubernur Andi Sumangerukka untuk menunjukkan capaian nyata pembangunan SDM selama masa kepemimpinannya.
“Andi Sumangerukka harus membuktikan, apa warisan pembangunan SDM yang akan ditinggalkan untuk generasi muda Sultra?”






