Sultrapedia.com – Program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional tampaknya masih menyisakan persoalan serius di tingkat daerah.
Di tengah gencarnya narasi swasembada pangan, sejumlah infrastruktur pertanian justru luput dari perhatian, salah satunya Bendung Daerah Irigasi (D.I) Asinua di Kecamatan Asinua, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Bendung sadap yang menjadi sumber pengairan utama bagi sekitar 100 hektare lahan persawahan di Desa Asinua Jaya dan Desa Asipako itu kini berada dalam kondisi memprihatinkan.
Fungsinya kian melemah akibat kerusakan fisik dan minimnya perawatan dari instansi terkait, khususnya Balai Wilayah Sungai (BWS).
Pantauan di lapangan menunjukkan, bangunan bendung tampak rusak dan tak terurus. Padahal, keberadaan bendung tersebut menjadi sumber kehidupan ratusan petani di dua desa tersebut.
Tanpa bendung yang berfungsi optimal, aktivitas pertanian terancam terganggu, bahkan berpotensi gagal panen.
Salah seorang warga Asinua, Jufri, mengungkapkan bahwa bendung tersebut merupakan bendung sadap yang tidak dilengkapi pintu air atau mercu permanen. Akibatnya, para petani terpaksa membendung aliran air secara swadaya agar sawah mereka tetap terairi.
“Bendung ini mengairi sekitar 100 hektare sawah di Desa Asinua Jaya dan Desa Asipako. Karena tidak memiliki mercu, petani harus membendung sendiri aliran air supaya lahan bisa mendapatkan air,” ujar Jufri.
Tak hanya bangunan bendung, kondisi saluran distribusi air juga semakin memprihatinkan. Endapan lumpur dan pasir setinggi hampir satu meter menutup sebagian besar saluran, sehingga aliran air tidak lagi berjalan maksimal. Parahnya, saluran tersebut tidak dilapisi beton (lining), sehingga mempercepat kerusakan dan pendangkalan.
“Saluran air sudah tidak berfungsi karena tertutup endapan tanah dan pasir. Apalagi salurannya tidak di-lining,” jelasnya.
Kondisi ini membuat para petani semakin terhimpit. Dengan keterbatasan biaya dan kemampuan teknis, mereka tidak sanggup melakukan perbaikan secara mandiri.
Jufri pun berharap pemerintah daerah, Balai Wilayah Sungai, serta pihak terkait segera turun tangan memberikan solusi konkret.
“Kami berharap pemerintah dan pihak terkait memberikan solusi. Kondisi bendung dan saluran seperti ini tidak bisa dikerjakan oleh petani,” pungkasnya.
Penulis : Redaksi






