Sultrapedia.com – Di Pulau Wawonii, hasil monitoring biodiversitas tak lagi hanya tersimpan di laporan penelitian. Data tentang hutan, pesisir, dan spesies lokal sejak tahun 2023 hingga 2025 mulai diterjemahkan menjadi langkah nyata.
Mulai dari kebijakan perusahaan dalam mengelola
pemulihan lingkungan hingga meningkatnya kesadaran masyarakat lokal menjaga laut.
Peneliti Biodiversitas, sekaligus Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Haluoleo
(UHO), Prof. Faisal Danu Tuheteru menilai hasil pemantauan yang telah dilakukan bersama timnya di
kawasan darat dan laut Wawonii telah memberikan gambaran penting tentang arah pengelolaan
lingkungan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Menurutnya, salah satu bentuk penerjemahan hasil monitoring yang paling terlihat adalah perkembangan
kegiatan reklamasi yang dilakukan PT Gema Kreasi Perdana (GKP). Ini terlihat dari bertambahnya area
reklamasi setiap tahun, seiring dengan kewajiban pemulihan lahan pascatambang.
“Saya melihat, perusahaan sudah memiliki komitmen yang tinggi untuk pemulihan lingkungan melalui
kegiatan reklamasi. Dari pengamatan kami sejak 2023 sampai dengan 2025, kami melihat perkembangannya sangat progresif,” ujar Prof. Danu.
“Setiap tahun terus bertambah (luas area reklamasi) secara progresif. Saya kira ini merupakan bagian dari
pemenuhan kewajiban perusahaan tambang untuk melakukan kegiatan reklamasi karena berhubungan
dengan luasan mine out dan lain-lain,” tambahnya.
Tak terbatas pada luas area reklamasi saja, tim peneliti juga mencatat adanya perubahan dalam pendekatan pemilihan jenis tanaman yang digunakan perusahaan.
“Di awal pemantauan tahun 2023, vegetasi reklamasi masih didominasi sengon dan sengon buto. Namun,
pada monitoring terakhir tahun 2025 jenis tanaman yang ditanam sudah semakin beragam dan mulai
menyesuaikan dengan karakter ekologis kawasan Wawonii. Kita di sana melihat bintangur, jabon merah,
sampai dengan cemara laut,” ungkap Prof. Danu.
Pendekatan reklamasi di Wawonii kini tidak lagi sekadar menanam pohon, tetapi mulai diarahkan pada
pemulihan ekosistem berbasis hasil monitoring biodiversitas.
Tercatat hingga Triwulan I 2026, PT GKP sendiri telah merealisasikan reklamasi lahan pascatambang seluas
23,75 hektare dan menanam sebanyak 19.792 bibit pohon dengan komposisi jenis tanaman lokal lebih
dari 40 persen.
Bagi masyarakat sekitar, penerjemahan hasil monitoring juga terlihat pada meningkatnya kesadaran
menjaga lingkungan pesisir dan laut. Tim peneliti menemukan bahwa praktik penangkapan ikan tidak
ramah lingkungan yang sebelumnya pernah ditemukan kini sudah tidak terlihat lagi.
“Tim laut kita juga menemukan ada bekas kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
Menariknya, sejak ada aktivitas perusahaan disana dan dilakukan sosialisasi, kegiatan tersebut tidak ada
lagi. Nelayan dan komunitas pesisir mulai menghindari destructive fishing. Sehingga, ekosistem laut
kondisinya relatif aman,” lanjut Prof. Danu.
Selain itu, komunitas masyarakat pesisir pun juga turut dilibatkan dalam penanaman mangrove dan
pemanfaatan rumpon untuk mendorong efektivitas penangkapan ikan di laut Wawonii.
Sementara itu, Environment & Forestry Superintendent PT GKP, Badrus Soleh mengatakan hasil
monitoring biodiversitas menjadi referensi penting bagi perusahaan dalam menyusun strategi
pengelolaan lingkungan dan reklamasi yang lebih tepat sasaran.
“Bagi kami, kegiatan monitoring biodiversitas bukan hanya kewajiban, tetapi juga menjadi dasar untuk
memastikan bahwa proses reklamasi berjalan adaptif dan berkelanjutan. Masukan dari tim peneliti
menjadi rujukan primer dalam menentukan jenis tanaman lokal, maupun strategi pemulihan ekosistem di area pascatambang,” kata Badrus.
Ia menilai, jika keberhasilan menjaga lingkungan di Wawonii juga membutuhkan keterlibatan masyarakat
sebagai bagian dari upaya bersama menjaga keberlanjutan kawasan.
“Kami percaya keberlanjutan lingkungan tidak bisa dijalankan sendiri oleh perusahaan. Dibutuhkan
kolaborasi dengan masyarakat, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan agar ekosistem Wawonii
tetap terjaga untuk generasi mendatang,” ujarnya lagi.
Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Danu juga menegaskan, bahwa masa depan Wawonii pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh keberadaan tambang atau perusahaan, melainkan oleh sejauh mana seluruh pihak mampu menjaga keseimbangan antara alam dan kehidupan ekonomi masyarakat di pulau tersebut.
“Perlu diingat bahwa Tuhan juga menciptakan sumber daya alam salah satunya berupa nikel di sana. Tugas
kita adalah memastikan bahwa aktivitas ekologi dan ekonomi tetap bisa berjalan secara beriringan dan
proporsional,” pungkasnya.






