Sultrapedia.com – Operasi pencarian dan pertolongan terhadap dua orang yang dilaporkan hilang kontak saat melaut di sekitar Perairan Pulau Basa, Kecamatan Poleang, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, akhirnya membuahkan hasil.
Kedua korban, Darmasin (63) dan cucunya, Dicky Saputra (6), ditemukan dalam kondisi selamat setelah sempat dinyatakan hilang kontak bersama longboat yang mereka gunakan.
Humas Basarnas Kendari, Wahyudi, mengatakan kedua korban ditemukan sekitar 2,5 nautical mile (NM) arah barat laut dari lokasi kejadian yang diduga menjadi titik terakhir keberadaan korban.
“Informasi yang kami terima dari tim di lapangan, kedua korban ditemukan dalam keadaan selamat sekitar 2,5 NM arah barat laut dari LKP duga,” ujar Wahyudi.
Menurut Wahyudi, keberadaan korban pertama kali diketahui setelah seorang nelayan Bajo, Alif, yang berada di wilayah Boepinang Barat, melihat keduanya berada di pesisir Pulau Basa.
Korban sempat diajak untuk ikut menuju daratan. Namun, keduanya memilih tetap berada di atas perahu miliknya.
“Setelah mendapat informasi tersebut, Tim SAR gabungan langsung menuju lokasi untuk menjemput kedua korban. Selanjutnya korban dievakuasi ke Poleang dan tiba di Puskesmas Poleang sekitar pukul 01.00 Wita,” jelasnya.
Dengan ditemukannya kedua korban dalam kondisi selamat, operasi SAR kecelakaan kapal terhadap satu longboat dengan dua orang POB yang hilang kontak di sekitar Perairan Pulau Basa dinyatakan selesai dan ditutup.
Seluruh unsur SAR yang terlibat kemudian dikembalikan ke kesatuannya masing-masing.
Berawal dari Pergi Memancing
Peristiwa tersebut bermula pada 12 September 2026 sekitar pukul 13.00 Wita. Darmasin pergi memancing bersama anak dan cucunya dengan menggunakan dua unit longboat.
Darmasin dan cucunya berada di satu longboat, sementara anak korban menggunakan longboat lainnya.
Sekitar pukul 13.30 Wita, longboat yang digunakan anak korban sempat singgah di Sikeli untuk memberikan ikan kepada keluarga sebelum kembali melanjutkan aktivitas memancing.
Darmasin dan cucunya terakhir kali terlihat oleh anak korban sekitar pukul 17.00 Wita, dengan posisi kurang lebih 2 NM dari Pulau Basa.
Karena biasanya korban kembali dari melaut pada keesokan harinya, keluarga mulai khawatir ketika hingga 13 September 2026 sekitar pukul 10.00 Wita keduanya belum kembali ke Pulau Sagori.
Pencarian kemudian dilakukan oleh pihak keluarga dan masyarakat sekitar. Namun, hingga informasi tersebut diterima Basarnas, pencarian awal belum membuahkan hasil.
Melibatkan Tim SAR Gabungan
Dalam operasi tersebut, sejumlah unsur terlibat, di antaranya SMC dan staf, Pos SAR Kolaka, Polsek Poleang, Polair Bombana, Pos TNI AL Bombana, Puskesmas Poleang, nelayan Sagori dan Poleang serta keluarga korban.
Tim juga menggunakan sejumlah peralatan dan sarana SAR, seperti Rescue Carrier, RIB, kapal nelayan, longboat, AquaEye, peralatan medis dan evakuasi, perangkat komunikasi serta perlengkapan keselamatan lainnya.
Berdasarkan informasi cuaca dari BMKG, kondisi saat operasi berlangsung relatif mendukung dengan cuaca cerah, kecepatan angin sekitar 12 kilometer per jam dari arah timur laut dan ketinggian gelombang berkisar 0,5 hingga 1,25 meter.
Wahyudi mengimbau masyarakat yang melakukan aktivitas melaut agar tetap memperhatikan kondisi cuaca dan memastikan perlengkapan keselamatan tersedia sebelum berangkat.
“Keselamatan harus menjadi perhatian utama setiap kali masyarakat melakukan aktivitas di laut. Kami mengimbau agar selalu memantau perkembangan cuaca dan membawa perlengkapan keselamatan,” pungkasnya.






