Sultrapedia.com – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang jatuh pada 27 April 2026 diwarnai sorotan tajam dari masyarakat. Pasalnya di tengah kemeriahan peringatan, warga justru menyinggung kondisi jalan yang rusak.
Sejumlah warga mengaku perayaan HUT Sultra terasa kontras dengan kondisi infrastruktur di lapangan. Jalan berlubang, berlumpur saat hujan, hingga akses yang sulit dilalui masih menjadi persoalan yang dikeluhkan, khususnya di wilayah Kecamatan Lalembuu, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Senin (27/4/2026).
Temuan di lapangan menunjukkan, ruas jalan yang menjadi akses utama warga itu belum tersentuh perbaikan signifikan oleh pemerintah atau Gubernur Andi Sumangerukka.
Padahal, jalur tersebut merupakan urat nadi aktivitas masyarakat menghubungkan mobilitas ekonomi, akses pendidikan, hingga layanan kesehatan.
“Kalau hujan, kendaraan sering terjebak. Anak sekolah juga kesulitan lewat,” ungkap Rijal salah satu pemuda desa Lalembuu kepada tim media ini.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius tentang arah kebijakan pembangunan daerah. Di satu sisi, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk perayaan berskala besar. Di sisi lain, kebutuhan dasar masyarakat seperti infrastruktur jalan justru terkesan terabaikan.
Sejumlah pihak menilai, ketimpangan ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan dari prioritas pembangunan yang belum berpihak sepenuhnya pada kebutuhan riil masyarakat.
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa wilayah-wilayah pinggiran seperti Lalembuu kerap menghadapi persoalan serupa, keterbatasan akses jalan yang berdampak langsung pada biaya logistik, keterlambatan distribusi hasil pertanian, hingga risiko terhambatnya layanan darurat.
Ironisnya, kondisi tersebut berlangsung berulang setiap tahun tanpa kejelasan timeline penanganan yang transparan kepada publik. Perencanaan pembangunan seharusnya berbasis kebutuhan dasar dan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar orientasi seremonial.
“Pembangunan itu harus terasa di jalan, bukan hanya terlihat di panggung,”Tambah Rijal.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai rencana konkret perbaikan jalan di Kecamatan Lalembuu maupun alokasi anggaran yang tersedia.
Bagi warga, persoalannya sederhana, mereka tidak menuntut kemewahan. Yang dibutuhkan hanyalah akses jalan yang layak agar aktivitas sehari-hari dapat berjalan normal dan manusiawi.
Potret Lalembuu menjadi pengingat bahwa di balik perayaan yang megah, masih ada suara-suara dari pinggiran yang belum sepenuhnya didengar.






