Sultrapedia.com – Menjelang pergantian tahun, sinergi antara institusi pemerintah dan organisasi keagamaan di Sulawesi Tenggara (Sultra) semakin diperkuat.
Hal ini mengemuka dalam forum Refleksi Akhir Tahun yang digelar PWNU Sultra pada Minggu (28/12). Kakanwil Kemenag Sultra, H. Mansur, menggarisbawahi beberapa poin strategis yang akan menjadi fokus utama di tahun 2026.
Mansur memetakan tantangan masa depan yang semakin kompleks, terutama di bidang transformasi digital dan ancaman terhadap moderasi beragama. Ia menegaskan bahwa peran organisasi seperti NU sangat vital sebagai penjaga stabilitas nasional.
“Kita menghadapi tantangan ekonomi, lingkungan, hingga krisis moral. Kita membutuhkan organisasi yang memiliki akar kuat di masyarakat untuk meredam potensi konflik dan membangun kehidupan keagamaan yang harmonis,” jelas Mansur.
Dalam analisisnya, Mansur melihat bahwa keberhasilan program Moderasi Beragama milik Kementerian Agama sangat bergantung pada kolaborasi dengan ormas keagamaan.
Lanjutnya, NU dengan prinsip tawazun (seimbang) dan i’tidal (tegak lurus), dinilai sebagai mitra paling strategis dalam menjaga arus utama Islam yang moderat di Sulawesi Tenggara.
Lebih lanjut, ia mendorong agar forum refleksi tersebut menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat diimplementasikan.
Ia menekankan tiga pilar ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Basyariyah sebagai fondasi utama menghadapi tahun 2026.
“Jangan hanya terjebak pada seremoni. Kita butuh gerakan yang lebih bijaksana dan solutif. Semoga rekomendasi dari dialog ini mampu menjadi peta jalan bagi kemaslahatan seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara,” pungkasnya di hadapan para tokoh penting, termasuk perwakilan kepolisian dan akademisi yang hadir.






