Cerita Ayah Korban Anaknya Dilecehkan Oknum Guru SD di Kendari : Kunci Pintu Kelas Saat Melakukan Aksinya

Sultrapedia.com – Seorang siswa Sekolah Dasar di Kendari diduga menjadi korban pelecahan oleh gurunya sendiri. Pelecehan tersebut di duga dilakukan oknum guru inisial M (53).

Aksi pelcehan itu viral setelah orang tua yang nyaris menghajar guru Sekolah Dasar (SD) tersebut.

Dalam video tersebut, terlihat seorang pria yang merupakan orang tua dari salah satu siswi melabrak sekolah anaknya dengan luapan emosi. Sambil memegang tangannya, ia hendak memukul oknum guru itu sambil berteriak teriak.

Pria tersebut naik darah setelah mengetahui putrinya yang masih duduk di kelas 4 diduga dilecehkan oleh oknum guru berinisial M, 53, yang tak lain adalah wali kelasnya sendiri.

Untungnya, peristiwa baku hantam yang hampir terjadi antara orang tua murid dengan guru itu dapat dilerai dengan cepat oleh guru guru lain dan pelaku segera ditenangkan.

Ayah korban bernama Sumaryono Sasmita Subarno menceritakan hingga dirinya emosi kepada guru tersebut. Dia mengatakan bahwa kasus pelecehan yang menimpa anaknya sudah berlangsung lama saat dirinya berada di luar kota.

Saat itu, oknum guru mengunci pintu kelas kemudian mengeluarkan murid lainnya. Hingga terjadilah aksi dugaan pelecehan. Saat itu korban sempat meminta bantuan ke Ibunya melalui Voice Note.

“Mama tolong saya mama pak guruku dia kasih keluar semua orang saya tidak boleh dan guru itu kunci pintu, mama dia mau cium saya, kemudian dipegang-pegang pipinya dan mencoba untuk mencium, anak saya sampai ketakutan dan bilang pak guru gila, pak guru tidak boleh begitu, disitulah anak saya trauma, setelah itu anak saya lari ketakutan dan dia minta pulang,” bebernya

BACA JUGA :  Akui Terima Dana Rp4,8 miliar dari PT CMA, KPK dan Kejaksaan Didesak Periksa Ridwan Badallah Atas Dugaan Suap

Setelah mengetahui itu, orang tua korban kemudian ke Sekolah anaknya untuk mengklarifikasi kejadian tersebut. Setibanya Sumaryono di sekolah anaknya tersebut, pihaknya langsung ke ruang guru mencari terduga pelaku.

“Saya langsung ke ruang guru, langsung saya cari guru itu, dan saya minta ke guru-guru lain untuk dipertemukan sama guru itu (M),” jelasnya.

Kata Sumaryono setelah dari ruang guru, dirinya langsung ke ruang kelas anaknya yang berada dibelakang.

“Setelah saya kesana ke ruang guru tidak ada dia (M) saya menuju ke ruang kelas anak saya, saya kebelakang saya melihat kepala sekolah di tengah tapi saya awalnya tidak tau kalau itu kepala sekolah, saya bilang pak mana nama pak (M) mereka bilang tidak ada, lalu mereka bilang (M) siapa pak,”bebernya.

Tetapi anehnya, kepala sekolah tersebut enggan mengetahui siapa oknum guru yang di sebut. Kemudian Sumaryono meninggalkan kepala sekolah untuk mencari oknum guru inisila M.

BACA JUGA :  Diundang Kominfo, Wartawan Justru Diusir Satpol PP dan Prokopim saat Liput Kegiatan KPK di Balai Kota Kendari

“Akhirnya kami ketemu dengan beberapa pegawai disitu yang kebetulan kenal-kenal kami juga akhirnya kami dibawa masuk ke ruang guru, setelah itu kami meminta didatangkan langsung terduga pelaku ini, disitu tidak ada respon, mereka mengatakan bahwa terduga pelaku ini masih diluar,” jelasnya.

Lalu, keluarga korban memintan pihak guru untuk menghubungi oknum guru tersebut segera menemui orang tua korban.

“Pada saat itu kami meminta untuk ditelfon terduga pelaku, tapi kepala sekolah masih agak berat menelfon, tidak lama kemudian terduga pelaku datang, saya sebagai orang tua tersulut emosi lantaran anak saya dilecehkan, saya bahkan tidak mengenal terduga pelaku dan saya tidak pernah ketemu dengan orang ini,” jelasnya.

Sumaryono juga membantah bahwa saudara kandungnya sama sekali tidak memukuli terduga pelaku, malah saudara kandungnya itu yang melerai dan melindungi terduga pelaku.

“Pada saat chaos di ruang guru karena terlalu lama dan sepertinya kami akan dimediasi, tidak lama terduga pelaku ini datang, kakak saya bisa dilihat di videonya tidak pernah memukul, tidak ada pemukulan yang dilakukan sama sekali oleh kakak saya, setau saya hanya saya yang memukul,” tutupnya

Editor: Erik